KKPD Kofiau


Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kofiau di sebelah selatan Raja Ampat memiliki luas sebesar 170.000 hektar yang mencakup pulau-pulau, pesisir dan laut, serta dihuni oleh beragam habitat biota laut dan terumbu karang. KKPD Kofiau terletak di dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang –wilayah penting bagi mamalia laut termasuk Paus Pembunuh dan Paus Pilot, yang berkunjung ke kawasan ini setiap tahun.

KKPD Kofiau menyediakan sumber makanan dan mata pencaharian bagi 2000 penduduk yang tersebar di lima desa. Masyarakat Kofiau merupakan keturunan suku Betieu yang erat hubungan dan bahasanya dengan suku Biak di bagian utara Kepala Burung. Masyarakat Kofiau memiliki beberapa mata pencaharian, dan kebanyakan dari mereka adalah nelayan atau berkebun kopra. Akan tetapi saat ini, sumberdaya yang menjadi tumpuan hidup mereka tengah menghadapi ancaman. Walaupun kegiatan penangkapan ikan dengan cara yang merusak telah ditekan melalui upaya penegakkan hukum oleh masyarakat setempat, praktek penangkapan ikan yang tidak lestari seperti penggunaan bahan peledak dan penangkapan ikan secara berlebih masih melanda KKPD Kofiau.

Masyarakat Kofiau menjaga tradisi pengelolaan sumberdaya melalui ‘sasi’ (penutupan wilayah penangkapan untuk sementara) untuk mengatur jenis ikan dan invertebrata penting, atau daerah tangkapan yang secara aktif dijaga oleh masyarakat. Dipadukan dengan zona larang tangkap, penerapan sasi dapat menjadi perangkat penting untuk meningkatkan dan mengelola perikanan lokal.

KKPD Kofiau

Tahun 2004, masyarakat bersama setiap tingkat pemerintahan juga LSM lokal dan internasional, membangun kemitraan untuk mengelola KKPD Kofiau. Masyarakat secara tradisional mendeklarasikan KKPD pada tahun 2007, yang kemudian diresmikan oleh pemerintah melalui Surat Keputusan Bupati di tahun yang sama.

Sebuah rencana zonasi baru saja disepakati melalui proses musyawarah bersama masyarakat. Baik kearifan lokal dan informasi ilmiah digunakan dalam perencanaan zonasi yang dirancang untuk menanggulangi ancaman terhadap perikanan, keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Rencana zonasi tersebut juga mencerminkan pendekatan terpadu ‘dari dataran tinggi hingga terumbu karang’ atau ekosistem pulau untuk memastikan pemanfaatan sumberdaya alam pada saat ini dan masa mendatang tidak akan memberikan dampak buruk terhadap KKPD Kofiau.

Masyarakat di lima desa di Kofiau mengungkapkan komitmen dan dukungan yang kuat untuk secara berkelanjutan melindungi dan memanfaatkan sumberdaya laut mereka melalui upacara tradisional yang mengukuhkan sistem zonasi di KKPD Kofiau pada bulan Oktober 2011. Upacara tersebut didukung oleh pemerintah daerah Raja Ampat dan dipimpin oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan. Saat ini, para mitra mengimplementasikan 5 strategi konservasi kunci untuk memastikan KKP dikelola secara efektif dan memberikan manfaat bagi masyarakat Kofiau.